28 September 2015, Senin
hari ini ada kelasnya pras dan satu-satunya kelas dihari senin
biasanya kelas gua itu tiap senin ada kelasnya Panjek yaitu TPA Verbal, tapi kali ini cuma Pras doang!
yaw dan seperti biasa si pras selalu ngasih gua mind blowing nah!
dia bilang harus nulis apapun biar bisa terbiasa nulis dan yaaa sekarang gua pengen nulis karena pengen banget bisa nulis..
yah siapa tau kan ada yang pengen kasih masukan atas tulisan-tulisan ga jelas yang udah gua buat..
oh ya, di kelasnya Pras hari ini kita belajar diskusi dikit dari video tentang dinosaurus! wow!
tapi bukan soal dinosaurusnya ya, tapi soal teka teki kepunahan dinosaurusnya..
ada para ahli geologi kece dan sebagainya duuuh keren banget!
Pras bilang kalau ahli geologi itu bukan hanya sekedar ahli bebatuan..
tapi mereka melihat batu itu dari ceritanya..
btw ini link video yang gua tonton bareng si Pras di kelas https://www.youtube.com/watch?v=tRPu5u_Pizk
Dan ada juga malah serendipity dalam penemuan yang sebenernya dia ga bermaksud buat neliti itu dan dapet kunci kearah penelitian yang berbeda..
contohnya kayak Alexander Fleming si penemu Penisilin itu lho.. awalnya kan dia lagi liburan dan lupa buat ngebersihin cawan petrinya dan taraa waktu pulang dia ngeliat cawannya dipenuhi jamur tapi ada satu titik dimana jamur ga tumbuh. dan begitulah skenario penemuan penisilin! hahah
Pras juga bilang sebagai scientice atau ilmuan itu ga bisa kerja sendiri. para ilmuan itu setidaknya harus berdiskusi bertukar pikiran satu sama lain untuk menemukan titik terang suatu masalah.
contohnya si penemu DNA yang berbentuk double helix si James Watson dan Crick. nah kalo lu tau ceritanya gimana penemuannya dan juga saingan-saingan yang lagi neliti itu juga pasti wuiih kereenn! dan kebetulan tadi juga nonton video itu dari Pras tapi lupa video nya apa..
pokoknya hari ini serba mind blowing banget!
Dan sekarang ja 10:19 pm gua lagi semangat-semangatnya nulis sambil nginget kejadian yang tadi sore gua pelajarin sembari googling lupa-lupa nama orang sembari dengerin lagu-lagunya OST Naruto! huahaha favoritnya sih ini lagu Driver - Kana Boon yang OST nya Boruto the Movie hehe..
Science itu asik loh ternyata!
di Zenius-X ini gua membuka pikiran gua tentang sesuatu yang menurut gua ga penting dan ternyata itu wah banget dimata gua ihhh bodo banget sih septi ngapain aja lu selama 18 tahun idup lu ih!!
oke dan blog ini akan berisi banyaaak banget postingan ya diusahain tiap hari baik itu curhatan ga penting sampe wisata deh!
selamat berjuang!
Senin, 28 September 2015
Sabtu, 26 September 2015
Batu Betangkop (Cerita Rakyat dari Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung)
Ps : ini adalah Cerita rakyat dari Bangka Belitung karya teman seperjuanganku Mohammad Oka Arizona
selamat membaca :)
Batu Betangkop
Oleh : Mohammad Oka Arizona
Jangan coba bermain abu
Jika tak ingin apinya redup
Barang siapa melawan ibu
Meyesal ia seumur hidup
Alkisah, Hiduplah seorang janda tua di sebuah desa di Bangka Barat.Ia hidup bersama ketiga orang anaknya yang bernama Sukan, Sumi dan Suyup. Setiap hari senin, selasa, dan rabu janda beranak tiga ini pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Sedangkan hari kamis, sabtu dan minggu ia pergi kea rah selatan di tepi pantai untuk menangkap ikan kecil dan siput. Sedangkan hari Jumat adalah hari keramat bagi orang-orang di desa tersebut. Pasalnya, mulai dari kamis malam saat suara jangkrik sudah mulai beradu, sang Batu Betangkop akan berkeliling kampong untuk mencari teman. Bukan sekedar teman, tapi teman yang akan menemaninya selamanya bahkan pernah seorang wanita tua ditelan oleh batu tersebut.
Kisahnya berawal ketika seorang dayang yang ditugaskan untuk mencari buah kelubi untuk ke tujuh putri di sebuah kerajaan. Maka, pergilah dayang tersebut ke hutan dengan sehelai kain hitam, sehelai kain kuning dan sehelai kain hijau besar. Kain-kain itu digunakan untuk menampung beberapa tandan buah kelubi pesanan tujuh putri kerajaan. Kain hitam untuk putri sulung dan adiknya yang menginginkan buah kelubi masak. Kain kuning untuk putri ke tiga dan empat yaitu buah kelubi muda yang masih kelat rasanya. Kain hijau untuk putri ke lima dan ke enam yaitu buah kelubi yang sudah jatuh ke tanah. Sedangkan putri bungsu tidak meminta sedikitpun buah kelubi karena ia tidak ingin merepotkan sang dayang. Tibalah sang dayang di hutan dekat pinggiran sungai. Di sanalah terdapat banyak pohon kelubi liar tumbuh. Semakin masuk ke dalam hutan, semakin banyak pula pohon kelubi liar yang tumbuh.
Sampailah dayang di hutan dengan tiga kain berwarna tersebut. Alangkah terkejutnya sang dayang ketika hendak melempar buah kelubi agar jatuh. Dilihatnya seekor ular besar yang melilit di pohon kelubi dengan kulit yang sedikit terkelupas. Sang dayang terdiam. Tubuhnya kaku ketakutan. Perlahan kulit ular tersebut mengelupas dan mengeluarkan aura yang bersinar. Seketika berubahlah ular tersebut setengah dari tubuhnya menjadi manusia. Dayang semakin terkejut namun masih tak bisa bergerak karena ketakutan. Akhirnya, sang ular mengetahui keberadaan sang dayang.
“Siapakah gerangan?” sapa sang ular dengan perawakan setengah manusia itu pada sang dayang.
“Saya dayang dari kerajaan tujuh putri” jawabnya dengan keringat yang mengalir di pelipisnya.
“Tujuh putri? “ Ular tersebut tampak berbalik dengan wajah yang masih dipenuhi sisik ular yang mengelupas.
Tak sangka sang dayang berlari meninggalkan ular tersebut. Dua buah kain berwarna kuning dan hijau yang jatuh pun tak dihiraukannya lagi. Hingga tibalah ia di pingggiran sungai berlumur itu. Sungai yang terkenal dengan kerajaan si pahit lidah. Sang dayang masih gemetar terbayang sosok ular yang ia lihat tadi sungguh menyeramkan.Maka berhentilah ia di sebuah semak-semak. Suatu ketika seekor rusa melintas di sampingnya seolah lari karena ketakutan. Sembunyilah sang dayang karena masih merasa takut. Pikirnya yang mengejar rusa tersebut adalah jelmaan ular yang ia temui tadi.
“Siapa di sana?” teriak seseorang dari kejauhan dengan suara berat yang mirip dengan suara sang ular.
Sang dayang tetap tenang. Bersembunyi dibalik semak-semak yang ia tutupi dengan kain hitam itu. Tanpa di sangka ternyata orang itu adalah si pahit lidah yang sedang berburu di hutan. Dayang masih belum mengetahui hal tersebut.
“Oy…siapa di sana…..jika manusia menyahutlah….” Dayang masih tidak menjawab. Pikirnya suara itu adalah ular yang mencarinya.
“Jika masih tak menjawab, berubahlah kau jadi batu”
Tiba-tiba kaki sang dayang tak bisa digerakkan. Kakinya mengeras. Menjalar hingga bagian tubuhnya. Posisinya masih dengan kain hitam yang digunakannya untuk menutup tubuhnya. Maka berubahlah ia menjadi batu besar. Orang- orang desa tersebut menyebut batu tersebut dengan nama batu betangkop. Namun anehnya, batu ini tidak pernah terlihat kecuali malam Jumat dan hari Jumat.ia akan berkeliling desa mencari teman pada malam Jumat dan hari Jumat. Ya, teman yang di maksud bukanlah teman, tetapi mangsa untuk di makan. Ada pula orang- orang desa yang putus asa kemudian menyerahkan dirinya ke batu betangkop tersebut. Mitosnya, saat lapar Batu Betangkop bisa memangsa orang-orang yang berkeliaran. Maka dari itu setiap hari jumat warga desa tersebut tidak ada yang keluar rumah hingga matahari tenggelam.
Janda tiga annak tersebut setiap hari memasak makanan untuk anaknya.Ia tak pernah masak sedikit. Pasalnya anak-anaknya tergolong rakus. Selain itu, mereka tidak pernah membantu ibunya bekerja mengumpulkan kayu atau menangkap ikan. Ibunya tetap sabar karena dia merasa adalah hal wajar jika anak kecil belum bisa membantu orang tua.
Delapan tahun sudah berlalu. Ketiga anaknya sudah beranjak dewasa. Namun, tingkah mereka masih tidak berubah. Semuanya enggan membantu orang tuanya. Setiap hari mereka menghabiskan dua bakul nasi. Hingga akhirnya ibu mereka sudah muak dengan tingkah anaknya.Ia memutuskan untuk tidak pulang ke rumah pada hari senin sore. Awalnya ia sudah memasak makanan cukup banyak agar anaknya tidak kelaparan.
Pagi-pagi sekali sang ibu sudah memasak makanan cukup banyak. Ia perkirakan makanan itu cukup untuk ketiga anaknya untuk beberapa hari ke depan. Saat matahari mulai berani, ia pergi meninggalkan anak-anaknya. Semula anak-anaknya tidak tahu kepergian ibunya. Di sangka oleh mereka ibunya hanya pergi ke hutan mencari kayu dan akan kembali pada sore harinya.
Satu hari sudah berlalu. Ketiga anak tersebut masih tidak menyadari ibunya tidak pulang. Selagi makanan masih ada mereka merasa aman dan tidak mempedulikan apapun. Hingga pada hari berikutnya persediaan makanan mulai menipis. Si anak bungsu, Suyup mulai rewel karena makanan kesukaannya sudah habis. Sedangkan Sukan, sang anak sulung juga mulai kebingungan. Ia baru menyadari bahwa ibunya sudah tidak pulang beberapa hari ini. Ia mencari ibunya di semua bagian rumah dan tidak ada hasil. Adik bungsunya semakin rewel.
“Mak... nak makan…” tangisnya pecah ke semua ruangan. Kakak sulung muai menyadari bahwa selama ini mereka tak pernah membantu ibunya. Ia juga teringat kata terakhir ibunya saat ibunya sangat marah karena ketiga anaknya tidak pernah mendengarkan nasihat ibunya.
Akhirnya, ketiga anak tersebut menyadari kesalahanya. Mereka berkeliling desa mencari ibunya seraya menangis.
“Mak…maafkan kami. Kami tidak mendengarkan perkataan mak”
“Mak…pulang… nak makan. Mak dimana?” sang anak bungsu menangis makin menjadi. Tak satupun warga desa ikut mencari ibunya. Semua warga desa sudah mengetahui sifat ke tiga anak itu. Tak pernah mendengarkan orang tua, rakus dan pemalas.
Persediaan makanan sudah habis. Sukan sebagai seorang kakak mulai panik. Bahwasanya ia tak bisa memasak. Jangankan memasak, untuk menghidupkan api di tungku saja ia tak bisa. Hingga hari ke empat ibunya tak pulang. Mereka bertiga terus mencari hingga ke ujung kampong.
“Mak…pulanglah…maafkan kami…”
“Mak…kami sayang mak…kami janji akan mendengarkan perkataan emak”
Hingga terdengarlah suara tangis itu ke dalam hutan. Tak di sangka janda itu sedang berbahagia di dalam hutan. Ternyata,ia bertemu dengan seorang pangeran jelmaan dari seekor belalang. Setiap malam tiba belalang berubah menjadi pangeran yang sangat tampan dan memadu kasih bersama janda tersebut. Sang belalang merasa sangat iba melihat anak-anak dari janda tersebut yang terus menerus menangis terisak-isak.
“Pulanglah…mereka anak-anakmu…apa kau tega?” hati sang janda mulai tersentuh. Sebenarnya ia juga tak tega melihat ketiga anaknya meraung kelaparan mencari maknya. Namun apa daya ia sudah terlanjur geram melihat tingkah anak-anaknya.
“Mereka tak pernah menghomatiku, tak pernah membantuku mencari kayu bahkan membantuku memasak!”
“Tapi mereka anakmu, tak mungkin seorang ibu tega pada anak-anaknya”
“Bagaimana denganmu? “ Janda tersebut melepas pelukan pangeran belalang.Ia tahu benar ia juga tak ingin kehilangan sang belalang. Cinta mereka sudah bulat dan tak bisa digoreskan oleh garis apapun.
“Bawalah aku pulang. Setiap malam aku akan berubah saat anakmu sudah tertidur. Aku akan selalu ada di sisimu”
Kemudian berubahlah sang pangeran menjadi belalang dan masuklah ia ke keranjang milik janda tersebut. Maka pergilah janda menemui ketiga anaknya. Melihat ibunya, ketiga anak tersebut langsung berlari dan memeluk ibunya. Mereka menangis, mencium kaki ibunya dan kemudian kembali kerumahnya. Sang janda mulai memasak menyiapkan makanan untuk ketiga anaknya. saat semua masakan sudah siap. Ketiga anaknya kembali menjadi sosok yang rakus bahkan tak menyisakan sedikit makananpun untuk ibunya. Ibunya tetap sabar, ia berfikir mungkin anaknya lapar karena tidak ada dirinya untuk memasak dalam beberapa hari terkahir.
Malam itu bulan penuh, malam jumat. Tak ada satupun warga yang keluar dari rumah. Ketiga anak janda itu sudah tertidur pulas. Maka berubahlan sang belalang menjadi sosok pangeran yang tampan. Malam itu sang janda dan pangeran memadu kasih. Berbagi cerita bersama.
“Ooo…kawan…akulah batu betangkop. Siapa hendak jadi kawan…” Terdengar suara senandung dari kejauhan.
Bertanyalah sang pangeran pada sang janda.
“Siapakah gerangan yang bersenandung malam-malam?” Tanya sang pangeran pada kekasihnya itu.
“Aduhai kasihku, itulah Batu Betangkop. Batu yang di kutuk raja si Pahit Lidah kena tidak menjawab sahutnya”
“Lalu mengapa kalian semua ketakutan?” Pangeran belalang semakin penasaran. Mereka berbicara dengan suara yang dikecilkan agar tak terdengar oleh batu betangkop jelmaan sang dayang.
“Kawan yang ia cari ialah untuk dimakan pangeran!”
Pangeran belalang hanya mengangguk dan kemudian kembali memadu kasih bersama sang janda.
Pagi sudah tiba. Janda beranak tiga itu sudah bangun untuk menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Ia memasak cukup banyak karena hari ini adalah hari Jumat. Setiap jumat tidak ada yang boleh keluar rumah karena Batu Betangkop masih berkeliaran di sekitaran desa. Matahari sudah tepat di atas bubung rumah. Tak satupun dari tiga bersaudara itu yang sudah terbangun. Ibunya sudah mulai terpancing amarah namun masih mencoba untuk sabar. Beberapa kali ia mengelus dadanya.
“Nak, bangun… ayo makan…” mendengar kata makan, sang anak bungsu langsung beranjak dan duduk di atas tikar pandan. Mulai melahap satu persatu makanan yang disiapkan ibunya. Semua anak sudah bangun dan mulai makan bersama. Sang ibu kembali ke dapur untuk mengambil sebuah nampan untuk makan bersama anaknya. Dalam hatinya anak-anaknya sudah berubah dan mulai sadar. Namun apa yang dilihatnya saat kembali benar-benar memancing amarahnya. Dilihatnya tak satupun makanan yang tersisa di atas tikar itu. Yang tersisa hanyala segerintil butir nasi yang jatuh.
Alangkah geram janda tersebut. Berlarilah ia ke luar rumah. Ketiga anaknya tak menghiraukan ibunya yang pergi dari rumah di hari Jumat itu. Meraka langsung tertidur pulas seusai makaan. Sang ibu berlari dengan air mata yang mulai membasahi pipinya. Hatinya kesal betul akan tingkah ketiga anaknya. Di ujung desa ia melihat Batu Betangkop yang kokoh dan berwarna hitam.
“Oy Batu Betangkop…. Makanlah aku! Aku akan menjadi kawanmu. Telanlah aku… aku rela!” air matanya masih mengalir.
“Lantas mengapa kau mengunjungiku? Bukankah kau takut? “Batu betangkop sama sekali tak terlihat seperti apa yang dikatakan warga-warga sebelumnya. Ia terlihat bersahabat dan tak berbahaya sama sekali.
“Aku sudah muak dengan anak-anakku. Mereka tak menghormatiku. Aku geram. Aku sudah tidak tahan. Telanlah daku. Kumohon. Aku akan jadi kawan kau!”
“Apa kau yakin? “ Batu Betangkop kembali bertanya.
“Aku yakin. Aku sudah muak dengan semua ini. Cepat telanlah aku”
Kemudian, ditelanlah janda beranak tiga itu. Yang tersisa hanyalah beberapa gumpalan rambut di atas tanah. Ada beberapa warga yang melihat kejadian itu. Maka, mulai saat itu warga-warga desa mulai berani keluar pada malam dan hari yang dilarang sebelumnya. Pasalnya, Batu Betangkop tak pernah lagi mencari kawan atau memakan manusia. Bahwasanya yang ia makan ialah atas kehendak manusia itu sendiri. Kini batu Betangkop tersebut ada di ujung desa di tempat ia menelan janda beranak tiga itu.
Tiap malam pangeran Belalang menunggu pulangnya sang Janda namun tak kunjung pulang. Lain dengan ketiga anaknya. Mereka masih tertidur hingga suatu pagi laparlah ketiga anak tersebut dan terbangun. Mereka mencari ibunya yang tak membuatkan makanan hari ini. Mereka mencari keluar rumah hingga bertemulah mereka dengan seorang warga desa.
“Mak… ampuni aku mak… mak….maafkan kami!” masih dengan senandung yang sama. Ketiga anak itu kembali mencari emaknya
“Makmu sudah ditelan batu betangkop. Kalau kau tak percaya pergilah ke ujung desa” mereka bertiga bergegas berlari ke ujung desa.
Dilihatnya sebuah batu hitam kokoh dan besar menghadap ke arah sungai. Di belakangnya terdapat beberapa gumpalan rambut. Mereka tahu betul itu rambut emaknya.
“Mak…pulang…ampuni anakmu mak…”
“Wahai Batu…keluarkan emak kami…kami masih sayang emak kami!”
“Kalian adalah anak yang kurang ajar. Seharusnya kalian membantu ibu kalian, merawatnya. Bukan menyusahkannya dan tidak mendengarkan nasehatnya!”
Batu betangkop membuka mulutnya yang lebar. Diperlihatkannya ibu dari ketiga anak tersebut sudah tertidur pulas.
“Keluarkan emak…. Kami berjanji tidak akan mengulanginya. Ampuni anakmu ini!” mereka merengek di depan Batu Betangkop.
“Jika kami mengulanginya lagi, mak boleh pergi dan meninggalkan kami selamanya”
“Mak ampuni kami mak…”
Tak lama kemudian Batu Betangkop memuntahkan ibu dari ketiga anak tersebut. Sadarlah Janda tersebut, kemudian anak-anaknya memeluk ibu mereka dan membawanya pulang.
“Terima kasih Batu Betangkop. Kami berjanji tak akan melawan orang tua kami”
Maka kembalilah tiga orang anak tadi bersama ibu mereka. Sesampainya di rumah, betapa terkejutnya mereka. Beberapa makanan sudah tersedia di atas tikar pandan itu. Tak hanya itu seorang lelaki berparas tampan juga menjadi pertanyaan bagi ketiga anak tersebut.
“Pangeran…” sapa ibu ketiga anak itu pada sosok pangeran Belalang yang ia kenal.
Pangeran belalang hanya tersenyum dan mengajak mereka untuk masuk dan menikmati hidangan yang telah disediakan olehnya. Ketiga anak itu telah sadar dan mulai makan secara perlahan. Mereka tak ingin lagi jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kali. Mereka tak ingin lagi kehilangan ibu mereka yang sangat tercinta. Lantas tak berapa lama hilanglah sang pangeran belalang dan ketiga anak itu tak satupun yang menyadarinya. Ternyata, sang belalang hanya bisa berubah menjadi pangeran pada saat malam hari. Apabila siang hari ia ingin berubah maka energinya akan berkurang. Maka dari itulah sang belalang kembali masuk ke keranjang yang kemudian di simpan di atas rabung rumah kamar ibu ketiga anak itu.
Hari ini hari sabtu, ibu tiga anak itu sudah menyiapkan makanan untuk anak-anaknya. Ketika matahari mulai menyapa, berangkatlah ia menuju pesisir pantai untuk berjumpa dengan beberapa nelayan yang juga mencari ikan. Bedanya, janda ini hanya mencari di pinggiran pantai. Peralatan yang ia gunakan juga berbeda dengan para nelayan. Ia hanya bermodalkan tangguk kecil sepanjang lengan dan juga satu buah suya` yang tergantung di pinggang untuk meletakkan hasil tangkapan. Biasanya ia mulai menangguk dari tengah hari hingga malam jika air tidak surut. Hari ini cukup berbeda. Ia mendapatkan hasil yang lebih banyak dari biasanya. Bahkan ia mendapatkan beberapa kepiting, makanan kesukaan si bungsu. Hari belum juga petang, ia sudah bergegas untuk pulang. Dalam pikirannya adalah ia akan memasak kepiting untuk anak bungsunya yang sangat ia cintai.
Sesampainya di rumah, ada pemandangan yang berbeda dari isi rumahnya. Semua sudah beres. Bahkan satu bakul nasi sudah tersedia di atas tikar pandan khas itu. Betapa senang janda itu melihat tingkah anaknya yang sudah berubah. Lantas memasaklah sang ibu untuk lauk ketiga anaknya dan dilanjutkan makan bersama. Malam itu terasa sangat syahdu dan bagai tersentuh hatinya sang ibu memeluk anak-anaknya satu persatu.
“Jadilah anak yang baik untuk emakmu ini…tetaplah seperti ini. Emak sayang kalian” begitupula dengan ketiga anak tersebut, semuanya menitikkan air mata.
Seusai makan bersama, sang janda hendak merapikan tempat makan namun dengan sigap anak sulung mencegahnya.
“Biar aku saja mak, mak istirahat saja” Alangkah senang rasa hati janda itu. Si anak bungsu lanjut menarik tangan ibunya, memijat kakinya dan kemudian meminta diceritakan cerita sebelum tidur. Belalang yang ada di dalam keranjang turut senang melihat pemandangan yang jarang itu. Hingga akhir semuanya terlelap bersama dalam malam yang penuh kesyahduan itu. Malam itu adalah malam terindah bagi janda tua itu. Baginya tiada yang paling berharga dibandingkan kebahagiaan ketiga anaknya yang sangat ia cintai itu.
Malam tadi janda itu tidak bertemu dengan pangeran. Ia terlalu gembira berbagi kasih sayang bersama anak-anaknya. Pagi sudah menjelang, ketiga anaknya sudah bangun lebih dulu. Merapikan rumah dan menyiapkan peralatan ibunya untuk menangguk ikan dan udang di laut. Saat terbangun ibu ketiga anak itu semakin bahagia. Semua anaknya sudah berubah dan sangat bisa di andalkan. Tidak seperti biasa, hari ini janda tersebut berencana untuk ikut tok Dulah, kepala desa. Jadi, ia tak akan pulang untuk dua hari. Pagi itu janda tiga anak itu memasak makanan cukup banyak. Ada kepiting, ikan bakar, beberapa bakul nasi dan berbagai macam sayuran segar. Setelah semua siap, ia mulai melangkah keluar rumah untuk bertemu dengan tok Dulah pergi melaut.
“Emak, aku ikut…” sapa anak kedua dari dalam rumah.
“Aku ingin membantu emak” janda itu tersenyum dan mengizinkan anak keduanya untuk pergi.
Sebelum ia pergi, ia berpesan kepada anak-anaknya untuk tidak membuka keranjang yang ada di rabung atap kamarnya. Maka pergilah janda itu bersama anak keduanya menuju pantai. Disana mereka bertemu dengan tok Dulah yang sudah siap dengan perahu kecilnya. Berlayarlah mereka ke tengah dan mulai memancing. Baru beberapa saat menebar tentar pancing, milik Sumi sudah tersambar terlebih dahulu. Dengan lihai dibantu tok Dulah, Sumi mengangkat pancingnya. Tarikannya cukup kuat, seolah ada ikan besar di dasar laut sana yang menyerang pancingnya. Tok Dulah semakin apik membantu Sumi mengangkat hasil tangkapannya. Tanpa di duga, ternyata seekor ikan Bulai (Ikan Pari) mulai terlihat. Sumi segera mengangkat ikan bulai yang didapatnya. “Aw” teriak Sumi saat ekor ikan tersebut mengenai betisnya.Ia langsung terkapar dan menjerit.
“Mak…kakiku” Melihat anaknya yang menjerit kesakitan, janda tersebut tak tega. Maka dirobeklah sebagian kain bajunya untuk menutupi luka anaknya itu. Tok Dulah juga ambil tindakan. Diambilnya beberapa gelas air laut dan segenggam dedaunan yang ia percaya sebagai penangkal penyakit. Maka di semburnyalah dedaunan itu pada tiga gelas air dan kemudian mengusapnya pada kaki Sumi. Beruntungnya tindakan cepat di ambil. Betis sumi mulai bisa digerakkan dan ia tidak menjerit seperti awal disengat lagi. Namun, Sumi tidak bisa berdiri dengan benar karena efek sengatan dari ikan bulai masih terasa.
Berlanjutlah Tok Dulah dan janda itu memancing. Sementara Sumi berisitirahat di atas perahu membantu mengumpulkan ikan yang didapat. Melihat kondisi anaknya yang kesakitan, janda itu memutuskan untuk pulang. Jadi, janda tersebut meminta tok Dulah untuk menepikan perahunya dan hendak pulang kerumah. Atas permintan janda itu, tok Dulah menepi dan kemudian melanjutkan ke tengah laut seorang diri.
“Maafkan saya tok, saya harus pulang. Saya harus mengobati kaki Sumi” Tok Dulah yang juga tau kondisi itu membiarkan janda itu pergi bersama sumi.
Parahnya, Sumi tak bisa berjalan karena efek sengatan ikan bulai masih terasa cukup menyengat meski sedikit berkurang. Maka, dengan penuh rasa iba, janda itu menggendong anak tercintanya sampai kerumah. Sungguh besar perjuangan janda tua itu sebagai ibu.Ia rela mengorbankan punggungnya yang sudah renta itu untuk menggendong anak tercintanya. Jarak dari pantai ke rumahnya cukup jauh. Mereka harus melewati beberapa hutan tempat janda tua biasa mencari kayu. Tak hanya itu, mereka juga Akan melewati Batu Betangkop di ujung desa yang Akan hidup saat malam Jumat dan hari Jumat. Batu Betangkop yang pernah menelannya dulu.
Sesampainya di hutan, Sumi merasa lapar. Jadi, berhentilah mereka di tengah hutan di bawah pohon kelubi. Dipetiklah beberapa kelubi muda untuk pengganjal perut anaknya yang tercinta itu. Padahal, Ia juga belum makan sedikitpun sejak malam tadi. Hari semakin petang, matahari sudah mulai malu untuk bertengger. Mereka memutuskan untuk bermalam ditengah hutan. Janda itu mencari beberapa kayu keering untuk menghidupkan api agar anaknya tidak kedinginan.
“Mak… sakit” Sumi merintih kepada emaknya.
Malam itu penuh dengan tangis, Janda tua itu tak tega melihat keadaan anaknya yang sangat memprihatinkan. Lukanya membengkak dan cukup besar. Ia tak tega melihat anaknya terus merintih ditengah malam. Jadi, ia memeluk anaknya seraya menangis dan berdoa agar ada keajaiban muncul. Ia merubah rencanya dan memutuskan untuk segera pulang malam itu. Jarak yang jauh bukanlah masalah baginya asalkan anaknya tidak kesakitan dan bisa hidup bahagia. Ia tak ingin melihat anaknya tak bisa berjalan. Dalam pikirannya kini campur aduk. Panik dan ketakutan bercampur rasa dalam khayalnya. Ketakutan pada malam sunyi sudah terkalahkan oleh tekad untuk membawa anaknya pulang. Sakit pinggang dan punggungnya sudah kebal dan tak terasa. Yang ada hanya tangis yang beradu memecah malam di tengah hutan. Usut punya usut, mereka tersesat dalam kegelapan malam. Jalan yang biasa dilaluinya terasa berbeda. Maka terduduklah mereka dengan peluh yang membasahi pelipis.
“Bertahanlah anakku…. Emak akan menolongmu” dan kemudian tangis membludak dari dalam hatinya. Berharap keajaiban muncul saat itu juga dan membawa mereka pergi dari hutan yang gelap dan fana itu.
Dilain sisi, di tengah rumah. Kedua anaknya sudah tertidur pulas. Persediaan makanan masih tersedia cukup banyak. Maka berubahlah pangeran belalang menjadi sosok yang tampan. Ia mengamati dua anak itu tertidur. Dalam hatinya ia berharap bisa membawa kedua anak itu ke kerajaan untuk menjadi anak-anaknya nanti bersama janda itu. Tanpa disadari oleh pangeran, ternyata Suyup si anak bungsu terbangun. Namun dalam bangunnya penglihatannya masih kabur. Ia melihat sosok pangeran dengan baju yang dipenuhi kilauan emas dan perak serta jubbah yang terlihat gagah. Dilihatnya sang pangeran berbalik maka ia segera menutup matanya takut pangeran mengetahui dirinya sedang mengintip.
Sang pangeran mengambil beberapa kain dan menyelimuti kedua anak itu dengan penuh kasih sayang.
“Jadilah anak yang patuh pada orang tua” ia bergumam menatap kedua anak itu.
“Aku akan membawa kalian ke istana jika kutukanku usai bersama dengan ibumu. Akan ku jadikan kalian anak-anakku. Akan ku sayangi kalian seperti ibu kalian menyangi kalian. Dan akan ku carikan permaisuri yang cantik untuk hidup bersama kalian”
Suyup masih berpura-pura tidur. Ia mendengar semua apa yang dikatakan pangeran itu. Tak lama kemudian, sang Pangeran bersyair dengan merdu sambil menepuk-nepuk punggung kedua anak itu agar mereka bisa tidur tenang.
O o o Anak manis dari seberang
Tidurlah dengan lelap
Daku akan menjaga ….daku akan menjaga
Menjaga tidurmu dari ketakutan…
O o o anak manis dari seberang
Tidurlah dengan damai
Semoga mimpi indah bersamamu…
Dan esok kan bahagia....
Mendengar suara syair yang merdu dari sang pangeran, Suyup kembali tertidur dengan pulas. Ia merasa seolah hanya mimpi belaka yang menghampirinya sesaat seusai ia mendengar syair itu. Seusai bersyair, sang pangeran langsung kembali ke keranjangnya.
Ayam suda berkokok, sinar matahari sudah masuk kedalam rumah janda itu melalui celah-celah kecil. Hal itu membangunkan kedua anak yang tertidur pulas itu. Suyup, si anak bungsu menceritakan kejadian yang ia alami semalam.
“Bang, adek melihat lelaki tampan seperti pangeran semalam” ucap suyup pada abang sulungnya,
“Mungkin mimpi, Yup” Abangnya tak menghiraukan perkataan adiknya.
“Tidak abang, adek dengar pangeran besyair. Lalu adek tertidur lagi”
“Besyair? “ Abang sulung itu menarik Suyup untuk duduk.
“Aneh, abang juga merasa seperti mimpi abang ada orang besyair. Suaranya merdu”
“Nah, Bang. Berarti bukan mimpi. Yang Suyup dengar itu nyata”
Keduanya saling berbagi cerita tentang mimpi yang sama itu. Lalu tersiratlah rasa lapar di antara keduanya. Maka bergegaslah mereka ke dapur dan mulai menyantap makanan yang masih tersedia. Keduanya kalap, semua makanan habis dan mereka langsung tertidur pulas. Singkat cerita, sore sudah menjelang. Keduanya terbangun dari tidur. Suyup merasa perutnya berbunyi. Ia merasa lapar. Sementara persediaan makanan sudah habis. Maka menangislah suyup hingga terdengar oleh abangnya. Abangnya yang melihat adiknya menangis merasa panik. Ia hendak memasak nasi namun persediaan beras sudah habis.
Maka, dibongkarlah isi rumah itu. Semua sudah diperiksa terkecuali kamar sang ibu. Maka masuklah kedua anak itu kedalam kamar ibunya. Ditemukanlah sebuah keranjang di atas rabung kamarnya. Suyup semakin meronta, meminta makanan karena merasa perut nya sudah tak tahan lagi.
“Bang… lapar. Adek sudah tak tahan lagi” Suyup menangis meronta.
“Bang apa itu? Bukalah bang. Adek sudah lapar” maka teringatlah Sukan pada amanah ibunya untuk tidak membuka keranjangnya.
“Emak tak beri kita buka keranjang” adik bungsu semakin meronta. Menangis sambil memegang perutnya. Maka dengan penuh penasaran dan rasa tak tega Sukan membuka keranjang itu. Didapatilah seekor belalang hijau di dalamnya.
“Bang, bakar belalangnya. Adek mau makan” tanpa pikir panjang mengapa ibunya menyimpan belalang di dalam keranjang, maka langsunglah Sukan menusuk belalang itu pada sebatang lidi panjang dan tajam. Kemudian, dibakarlah belalang itu dan dengan lahap adiknya memakannya.
Adiknya kembali menangis.ia merasa tak puas dengan hanya seekor belalang. Dalam hati Sukan penuh dengan gejolak. Ia sudah melanggar amanah dan nasehat ibunya. Namun apa daya, semua sudah terjadi. Tak beberapa lama terdengar suara gerasak gerusuk di sertai suara tangis dari depan rumah. Dilihatnya ibunya sedang menggendong adik kedua. Kaki ibunya sudah memerah. Matanya merah penuh dengan air mata.
Janda itu langsung masuk ke rumah dan membaringkan anaknya yang sudah sekarat itu. Saat hendak ke dapur, dilihatnya kondisi rumah berantakan dan alangkah terkejutnya Ia ketika melihat keranjang tempat pangeran sang pujaan hatinya terbuka.
“Mengapa ini terbuka? Kenapa?” Janda itu berteriak sambil menangis menghadap anaknya. Sukan, anak sulung merasa bersalah dan kemudian menjelaskan kepada ibunya bahwa belalang itu sudah dimakan oleh Suyup. Alagkah pedih hati janda itu mendengar perkataan anaknya itu. Kini ia sudah tak tahan lagi. Hatinya sudah patah. Sang kekasih ssudah menghilang tanpa kata akibat ulah anaknya yang tidak mendengarkan perkataannya. Ia benci dengan kehidupannya. Ia merasa hidupnya sudah tak ada artinya lagi. Maka ia berlari seraya bersenandung dalam tangisnya. Beberapa warga desa melihat janda itu berlari menuju ujung desa. Sementara anaknya mengikuti dari belakang. Menangis meminta maaf dan ampun.
“Ampun mak… maafkan kami”
Namun apa daya, janda itu sudah terlanjur pedih hatinya dan sudah tak tahan lagi maka ia mengahmpiri Batu Betangkop sambil bersenandung dalam tangisnya. Ternyata senandung itu adalah senandung yang membangunkan Batu Betangkop.
Segenter bumi angin laut…
Arep bearep bintang langet anek mateh….
Banyek pelanduk bulan tebelah haaa…
Bateng mengkubu di hutan lelap
Tunduk lah tunduk tulonglah…
Bareslah anekku dari segale tingkah…
Maka hiduplah Batu Betangkop dihari yang bukan biasanya. Dengan mulut yang lebar di depannya ia berkata.
“Apa gerangan wahai janda?”
“Telanlah aku dan jangan keluarkan aku lagi. Kumohon. Ini permintaanku yang terakhir. Aku sudah muak dengan hidup ini”
Dan kemudian Batu Betangkop menelan janda itu dan tiba-tiba tanah langsung naik ke atas dan mengubur Batu Betangkop hingga tak terlihat lagi. Ketiga anak itu meronta sejadi-jadinya. Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Nasehat orang tuanya tak pernah di dengarnya. Tidak tahukah mereka bahwa ibunya mencintainya sepenuh hati tiada tara. Mulai saat itu, Batu Betangkop tak pernah lagi muncul di desa itu.
Kamis, 24 September 2015
the difference between my lovely Island and Jakarta City part 1
okay im a 18 y.o girl and now lived in Jakarta. baru sekitar 3 minggu di jakarta dan kemarin adalah hari raya Idul Adha dan untuk pertama kalinya aku berada jauh dari orang tua.
namaku Septi Dwi Atikah, aku berasal dari Baturusa, Pulau Bangka. aku ke Jakarta untuk menghabiskan masa sabatical-ku dalam 1 tahun sebelum memasuki masa perkuliahan di Zenius-X Tebet, Jakarta Selatan.
terlihat jelas perbedaan antara Pulau ku dan Jakarta.
Jakarta, ibukota yang kadang sering membuat takut orang-orang daerah.
perbedaan yang sangat mencolok antara Bangka dan Jakarta adalah dari lingkungannya.
di Bangka tidak seramai Jakarta, tempat wisata yang ada di Bangka adalah Pantai karena memang Bangka termasuk salah satu Provinsi Kepulauan yang ada di Indonesia.
sedangkan di Jakarta, kakak (anak tanteku) bilang kalau tempat wisata yang ada di Jakarta untuk menghabiskan weekend itu di Mall.
dan kebetulan kemarin 24 September 2015 aku di ajak Kak Ucha pergi ke Central Park Mall, Jakarta.
ini bukan pertama kalinya aku ke Mall, tapi memang Mall yang ada di Jakarta sangat jauh berbeda dengan yang ada di Bangka. bahkan beda dengan yang ada di Jogja.
dan ternyata Mall yang aku kunjungi itu masih termasuk kelas Middle. WOW!
aku yang selama 17 tahun menghabiskan waktuku di tanah kelahiranku Bangka Belitung begitu takjub. bagai anak kampung masuk kota lho!
banyak yang belum ku ketahui di Jakarta, dan akan ku explore terus! apa saja yang ada di Jakarta selama satu tahun ini?
Senin, 21 September 2015
curcol day 1
this isn't my first blog. but i want to try make it again haha
yay 20 september 2015 kemarin tepatnya hari minggu gua udah 18 tahun aja masa :''
gua dapet kiriman boneka "monkey" from my bestie yang kuliah di Ilmu Komunikasi Universitas Sriwijaya (Unsri) di Palembang, R.A Andina (sukses kuliahnya ya saayy /dorr)
dan ada juga temen gua yang sengaja ngucap jam 00:00 tanggal 20 september huahaha
berasa kayak gimanaaa gitu, sebegitunya ah~
tapi terimakasih ya untuk temen-temen yang udah ngucapin selamat ulang tahun ke Septi ^_^
sekali lagi.. selamat ulang tahun Septi!
baiklah mari memulai langkah sebagai orang dewasa yang keren!
semangat untuk SBMPTN tahun 2016!
yay 20 september 2015 kemarin tepatnya hari minggu gua udah 18 tahun aja masa :''
gua dapet kiriman boneka "monkey" from my bestie yang kuliah di Ilmu Komunikasi Universitas Sriwijaya (Unsri) di Palembang, R.A Andina (sukses kuliahnya ya saayy /dorr)
dan ada juga temen gua yang sengaja ngucap jam 00:00 tanggal 20 september huahaha
berasa kayak gimanaaa gitu, sebegitunya ah~
tapi terimakasih ya untuk temen-temen yang udah ngucapin selamat ulang tahun ke Septi ^_^
sekali lagi.. selamat ulang tahun Septi!
baiklah mari memulai langkah sebagai orang dewasa yang keren!
semangat untuk SBMPTN tahun 2016!
Langganan:
Postingan (Atom)